Sekadar Cerita Pendek - Suasana Segar



Suasana Segar


       “Yon. Gue pulang duluan ya.”

       Dengan senyum yang terpaksa, aku menjawab. “Iya Han, hati-hati.”

       Rehan menepuk pundakku sebagai tanda salam perpisahan. Ia pulang duluan karena dijemput sang kakak tercinta. Padahal kami bertetangga dan kami berjanji akan pulang bersama. Tapi nyatanya?

       Kini aku berdiri tepat di gerbang sekolah baruku. Ya, aku baru saja menginjak bangku SMA. Di sekelilingku, banyak para siswa-siswi berlalu-lalang. Tapi karena belum berkenalan banyak teman, aku masih merasa sendirian.

       Plukk.

       Gadis dengan kuncir rambut berwarna biru yang lewat di depanku, tidak sengaja menjatuhkan sesuatu. Ia terlihat tergesa-gesa. Aku ambil benda itu, ternyata sebuah gantungan tas berbentuk beruang. Sangat imut dan lucu.

       Aku mengejarnya, berniat untuk mengembalikan beruangnya yang terjatuh. Dan sial, ia keburu menaiki angkutan kota yang sudah jalan. Terpaksa aku harus mengejarnya.

       Sambil berlari aku berteriak. “Tunggu! Berhenti, Pak!”

       Tak sia-sia ternyata. Angkutan kota itu berhasil aku hentikan. Tak lama kemudian, muncul kepala seorang gadis dari jendela dekat pintu, dengan kunciran berwarna biru yang mengikat rambutnya. Ya, ia pemilik gantungan beruang ini. Rupanya ia penasaran, menatapku dengan penuh keheranan. Ia memasang wajah datar, tapi sungguh ia sangat terlihat manis, dari kacamataku sebagai seorang lelaki. Cepat-cepat aku menghampirinya.

       “Ini beruangmu, tadi terjatuh.” Aku menunjukkan benda yang kutemui tadi padanya. Untung ia duduk dekat pintu, jadi mudah untuk aku menemuinya. Kini aku di hadapan gadis dengan wajah yang sangat dingin. Tanpa mengucapkan terimakasih, dengan cepat gantungan beruang itu ia ambil.

       Aku sedikit kecewa. Tidak bilang terimakasih, tidak terlalu aku permasalahkan. Tapi, dari wajah yang ia suguhkan? Ia seperti sama sekali tidak mengenal tanda terimakasih. Aku ingin sekali mencecarnya, tapi apa boleh buat. Aku sudah menyita waktu banyak orang. Angkutan kota yang dipenuhi penumpang ini, harus segara berangkat.

       “Udah Pak, jalan!” Intruksi gadis berwajah dingin itu kepada pak sopir.

       Aku hanya diam dan fokus meratapi angkutan kota yang akan segera pergi. Namun, tiba-tiba ada seorang pria berkaus hitam yang menyenggolku, dan bisa aku rasakan, ia seperti mengambil sesuatu dari kantong belakang celanaku. Seketika aku tersadar, ia baru saja mengambil ponselku. Aku membalikkan badan, melihat si pencuri yang lari terbirit-birit.

       “Woy! Hp saya itu!” seruku, dengan sedikit panik.

       Saat aku ingin mengejar jambret itu, si gadis berwajah dingin loncat keluar dari angkot yang sudah jalan. Hingga angkot ngerem mendadak. Pak sopir dan seisi angkot terkejut, aku pun sama. Aku mendengar cibiran para penumpang yang kesal kepada si gadis dan mereka meminta pak sopir untuk melajukan angkotnya kembali. Tapi, sepertinya pak sopir merasa iba. Ia tidak mungkin meninggalkan gadis itu. Ia memilih menunggu.

       Gadis itu menjatuhkan barangnya lagi, kali ini lebih besar, yaitu sebuah tas berwarna abu-abu. Ia berlari ke arah jambret itu berlari. Aku semakin tidak mengerti, apakah dia komplotan si jambret? Yang menyamar sebagai salah satu siswi di sekolahku ini?

       Saat aku ingin mengejar si gadis, aku teringat pada pak sopir dan penumpang angkot yang sudah aku buat repot.

       “Maaf sudah merepotkan, jalan saja Pak!” pintaku pada pak sopir.

       Angkutan kota itu melaju dan aku mengejar komplotan jambret itu. Aku bawa serta tas milik si gadis. Jika benar mereka berkomplot, siapa tahu bisa jadi barang bukti, supaya mereka dapat di laporkan kepada pihak yang berwajib.

       Setelah lelah berlari, aku berhenti. Dan mataku membelalak tidak percaya. Jambret itu mati kutu di hadapan si gadis. Setelah si gadis berhasil mengambil ponselku dari tangan si jambret, banyak warga berdatangan dan diseretlah jambret itu ke kantor polisi. Ternyata aku sudah salah menduga. Gadis itu justru menyelamatkan ponselku.

       “Nih, Hp lo!” gadis itu menyodorkan ponsel milikku.

       Aku mengambilnya. "Padahal tadi enggak dikejar juga enggak apa-apa. Aku sudah hampir ikhlas."

       Aku sudah mengikhlaskan ponselku sedari tadi. Aku berpikir bahwa ponselku itu sudah bukan rezekiku lagi. Tapi, rupanya gadis di hadapanku ini tidak dapat menerima perkataanku. Ia mengernyitkan dahi dan menatapku dengan mata sedikit melotot.

       “Hah?! Apa?! Lo jadi orang enggak tau tanda terimakasih ya?! Udah untung gue kejar itu jambret, kalo enggak Hp lo itu udah sirna!”

       Lho? Seharusnya kan aku yang bilang seperti itu duluan. Tapi kenapa malah dia? Memang tidak tahu malu. Tapi benar juga, kenapa aku tidak langsung mengucapkan terimakasih saja, apa mungkin karena ada sedikit dendam? 

       Raut wajahnya yang menyiratkan kemarahan membuatku takut. Tapi aku memberanikan diri untuk bertanya. “Lalu, kenapa tadi kamu tidak berterimakasih padaku?”

       "Tadi? gue cuma mau buru-buru.”

       “Ya udah, aku minta maaf. Terimakasih sudah menyelamatkan ponselku.”

       Ia menarik napas panjang. “Iya sama-sama. Gue juga mau bilang makasih buat yang tadi.”

       “Nah, gitu dong! Sama-sama.”

       Aku menepuk pundaknya dan kami saling melempar senyum. Dengan wajah datar saja ia sangat terlihat manis. Apalagi dengan kedua sudut bibir yang terangkat, membentuk lengkungan keindahan di wajahnya.

       “Hmm ... kita kan satu sekolah. Berarti kita harus kenalan,” ujarnya.

       Karena seragam putih yang kami pakai belum terpasang nama, refleks, aku menyodorkan tangan. “Oke, siapa namamu? Namaku ....”

       “Sstttt! Karena lo temen pertama gue di sekolah ini, gue pengen perkenalan kita itu elit dan berkesan. Enggak di pinggir jalan kayak gini.”

       “Elit? Berkesan?" tanyaku, sedikit tidak paham.

       “Iya, elit dan berkesan. Gini, gimana kalo kita kenalan di kafe seberang sekolah? Dan lo, harus traktir gue.”

       “Lho? Kok aku?”

       “Ya, kan, lo laki.”

       “Tapi kan kamu yang ngajak kenalan.”

       “Ya udah, kalo enggak mau juga enggak apa-apa. Gue nggak maksa. Gue mau pulang aja, kartun kesukaan gue sebentar lagi mulai, bye!”

       Gadis itu melangkahkan kakinya. Berlagak ingin meninggalkan ku. "Eh, tunggu dulu dong! Lagi mikir ini.”

       Ia membalikkan tubuhnya. “Gue nggak butuh temen yang kelamaan mikir!”

       Entah mengapa kali ini aku sangat dihantui rasa penasaran. Tidak ada pilihan lain, demi mengetahui namanya. “Ya udah, ayo! Kamu jalan duluan.”

       “Oke.”

       Dengan di pimpin si gadis, kami berjalan kaki menuju ‘Cuman kafe’. Kafe yang berada tepat di depan SMA ku.

***

Setelah berjalan kaki kurang lebih empat ratus meter, sampailah kami di beranda kafe. Gadis yang belum aku ketahui namanya ini, terlihat sangat senang saat masuk ke dalam kafe. Kalo boleh aku menerka, mungkin ia jarang sekali mengunjungi kafe, dan mungkin ini kali pertamanya ia mengunjungi sebuah kafe. Lalu kami duduk di meja nomor 14, posisi kami berhadapan.

       “Oke, sekarang udah di kafe. Siapa namamu? Namaku ....”

       “Bentar!”

       Lagi-lagi ucapanku dipotongnya. “Kenapa? Ini kan sudah di kafe?!”

       “Iya udah di kafe, tapi belum pesen.”

       Tidak lama seorang pelayan wanita mendatangi kami dan menyodorkan daftar menu. “Silahkan, mau pesan apa?”

       Jujur, aku tidak tahu apa yang akan di pesan gadis tengil ini. Semoga saja tidak yang aneh-aneh dan uang jajanku cukup untuk mentraktirnya.

       “Hmm ... ini dia!”

       Akhirnya ia menemukan menu yang ia cari. Sekali lagi aku berharap apapun yang ia pesan, cocok dengan isi kantongku.

       “Es teh manis, satu.”

       “Es teh manis doang?” tanyaku, memastikan.

       “Iya. Walaupun kita nongkrong di kafe, kita harus tetap hemat. Iya kan, Mba?” jelasnya, sembari mencari dukungan pada mba pelayan.

       Pelayan itu hanya menyengir. “Mas nya?”

       “sama-in aja, Mba.”

       “Ya sudah, ditunggu ....”

       Pelayan itu meninggalkan kami. Kalau boleh jujur, aku sangat menyesal telah menyetujuinya untuk kemari. Tapi, aku juga bersyukur kafe ini menyediakan es teh manis dalam menu, dan di pesan si gadis. Untuk saat ini, uang jajanku masih aman. Mungkin ia memang bukan cewek matre seperti yang kubayangkan. 

       “Oke, namaku ....”

       “Bentar! Es teh manisnya belum datang!”

       Di potong lagi, lagi, dan lagi. Sampai lima menit berlalu dan es teh manis yang kami pesan sudah tiba. Aku masih diam, sekarang aku hanya akan mengikuti apa yang ia mau saja. Tidak lama ia langsung menyeruput es teh manisnya.

       “Ternyata lo cukup sabar juga ya?”

       Dia tidak tahu saja, kalau aku adalah nomor satu orang yang paling sabar menunggu kakak perempuanku keluar dari kamar mandi. Bisa sampai satu jam, bahkan lebih. Kalau setiap ditanya ‘Kenapa lama?’ jawabannya pasti ‘Kamu itu laki-laki, enggak akan paham’.

       “Jadi ... nama lo?” Ia menyodorkan tangan kanannya. Aku berdecak, kenapa tidak dari tadi? 

       Aku menjabat tangannya. “Dion. Kamu?”

       “Ana, nama panggilan gue. Suasana Segar, nama panjang gue.”

       “Suasana Segar?” tanyaku, sedikit heran.

       “Iya. Kenapa?”

       “Apa alasan orang tua kamu menamaimu Suasana Segar?”

       Ini pertama kalinya aku mendengar nama yang unik dari orang yang mengajakku berkenalan, dan sepertinya ia tidak berbohong.

       “Ini agak sedikit memalukan sih... Jadi gini, bokap gue itu mengidolakan seorang aktor sekaligus politikus asal Austria. Namanya Arnold Schwarzenegger. Tapi, karena bokap dan nyokap gue enggak bisa bacanya. Di pelencengin deh jadi Arnold suasana segar. Gitu ....”

       Aku tertawa mendengar penjelasan Ana. Sungguh orang tua yang kreatif dan inovatif.

       “Kamu enggak marah aku ketawa?”

       Dia menggeleng. “Udah biasa.”

       “Udah biasa, bukan berarti enggak kenapa-kenapa.”

       Ia memutar bola matanya. “Beneran udah biasa, kok.”

      “Kalo aja, ibu dan ayahmu tau cara bacanya. Namamu akan jadi nama yang keren dan kebarat-baratan. Tapi, sekarang kamu beruntung bisa punya nama yang enggak kalah keren dan melokal.”

       “Nah! Disitulah untungnya,” responsnya cepat.

       Setelah berbincang tentang namanya yang dirasa cukup aneh. Kami kembali saling diam. Menyeruput es teh manis yang tinggal setengah gelas.

       “Na, kamu bisa bela diri dari mana?” tanyaku, membuka kembali percakapan.

       “Oh, gue dapet ilmu bela diri dari bokap gue. Katanya buat jaga diri,” jelasnya.

       Aku mengangguk. Dari dalam kafe, jalanan terlihat lebih sepi. Aku rasa seluruh siswa dari sekolahku sudah pulang.

       “Dan kamu masih suka nonton kartun, Na?” tanyaku, mengingat tadi Ana ingin pulang karena kartun kegemarannya sudah mau mulai."

       “Hmm ... ya gitu, deh. Udah lah enggak usah dibahas.” jawabnya dengan wajah yang memerah.

       Sungguh hal yang tidak terduga. Ana, gadis dengan wajah datar dan dingin itu, masih suka menonton kartun. Tapi tidak, itu tidak memalukan sama sekali. Itu haknya. Bahkan hak semua orang, bukan?

       “Lo udah punya pacar?” tanya Ana.

       “Hah? Pacar? Boro-boro.”

       “Menurut gue lo lumayan ganteng. Suka sama cewek atau disukain cewek, pernah?”

       “Kalo suka, enggak. Tapi kalo disukai, enggak tau, deh. Kamu sendiri?”

       Ana tertawa dan aku tidak tahu apa yang ia tertawai.

       “Dulu, gue pernah suka sama cowok. Gue enggak percaya ini, tapi gue punya nyali yang besar buat deketin dia waktu itu.”

       “Ceritain dong!” pintaku, sembari membetulkan posisi duduk.

       “Gini ceritanya, gue suka sama itu cowok saat gue kelas tujuh. Kita sekelas. Tapi saat itu gue nggak ada nyali buat bilang suka sama dia. Bisa dibilang dia cukup populer di sekolah. Dan yang suka sama dia bukan gue doang. Kayaknya hampir delapan puluh persen cewek di sekolah gue suka sama itu cowok.”

       “Terus?” tanyaku, sedikit penasaran.

       “Karena banyak yang suka, cewek-cewek berlomba-lomba supaya di notice sama tuh cowok. Ada yang ngasih dia roti buat sarapan setiap pagi, ada yang ngasih dia cokelat, sampe-sampe mereka ngebentuk organisasi gitu. Terus bikin project surprise pas hari ulang tahunnya, dan masih banyak lagi.”

       Ana menghela napas berat.

       “Setiap jam istirahat banyak banget makanan, minuman, dan surat-surat dari banyak cewek yang bertumpuk-tumpuk di kolong sampe di atas mejanya. Enggak jarang, dia sampe di panggil ke ruang BK karena dianggap selalu buat kerusuhan. Biasalah, dilaporin sama anak-anak OSIS.”

       Ana menyeruput Es teh manisnya.

       “Terus, kamu ngedeketin dia dengan cara yang sama?” tanyaku.

       “Betul banget! Tapi ini sedikit berbeda dan sangat luar biasa.”

       Aku mengernyitkan dahi. “Apa itu? Kamu kasih dia cokelat segede gaban?”

       “Bukan! Itu terlalu biasa. Gue kasih dia susu kotak.”

       “Susu kotak doang? Apanya yang luar biasa?”

       “Susu kotak yang gue kasih ke dia adalah susu kotak basi.”

       “Susu kotak yang udah basi?” tanyaku, keheranan.

       “Iya. Yang udah kedaluwarsa berbulan-bulan. Terus diatasnya gue taro kertas yang tertulis nama gue, Ana, dalam kurung Suasana Segar. Buat nutupin tanggal expired-nya. Gue inget waktu itu dia lagi makan gorengan, terus keselek, dan disitu satu-satunya yang bisa diminum adalah susu kotak dari gue. Terus dia minum tuh susu sampe abis.”

       Dia tertawa. Sementara aku hanya geleng-geleng mendengar ceritanya.

       “Dan apa yang gue lakuin, itu ada khasiatnya. Manjur. Dia nyamperin gue ke kelas, katanya rasanya udah nggak enak di perut, dia juga harus bolak-balik WC gara-gara susu yang gue kasih. Dan sampai sekarang dia inget nama dan muka gue. Lo boleh coba.”

       Aku masih geleng-geleng.

       “Dia ingat muka dan nama kamu bukan karena dia balik suka sama kamu. Tapi karena dia benci sama kamu.”

       “Enggak apa-apa, karena udah lama juga perasaan gue sama dia itu, hilang.”

       “Kamu gila, Na.”

       “Gue enggak gila, tapi gue cerdik.”

***

Aku sudah sampai di rumah, mungkin Ana juga. Pertemuan dengan Ana menyuguhkan cerita baru dihidupku. Wajahnya hanya datar dan dingin di awal saja. Tapi, setelah berkenalan sifatnya jadi sangat friendly sekali. Ia punya cara unik untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia. Termasuk padaku. Memberikan suasana baru, suasana yang segar. Seperti namanya. Besok, kami akan bertemu lagi. Dan cerita ini, baru saja dimulai ....


Tidak mengerti dengan pasti apa yang aku rasa hari ini.

Tapi, besok pasti jumpa lagi.

Besok-besok juga pasti bisa paham.


- Salam kenalku padamu, Dion.


ㅇㅇㅇ


Mari gunakan kolom komentar untuk berdiskusi, dengan menulis pendapatmu😊

Dan ... terimakasih sudah berkunjung🤗

Salam Literasi!









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mulai